Total Tayangan Laman

Selasa, 06 Mei 2014

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BINTER BAGI DANRAMIL DALAM RANGKA MENANGKAL BAHAYA KONFLIK HORISONTAL


BAB I PENDAHULUAN 1. Umum. a. Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, agama dan adat istiadat sangat rentan akan terjadinya Konflik Horisontal. Kondisi nyata tersebut harus disikapi dengan sangat bijaksana oleh seluruh komponen bangsa, baik masyarakat maupun aparat pemerintah. Sebab apabila tidak, akan menimbulkan bahaya yang lebih besar yaitu terjadinya disintegrasi. b. Dari pandangan faktor keamanan dalam hal ini TNI, Konflik Horisontal merupakan suatu potensi bentuk ancaman yang dapat mengacam stabilitas keamanan negara, sebab apabila Konflik yang dipicu oleh masalah SARA, maka akan menimbulkan masalah yang sangat komplek karena kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk. c. Koramil mempunyai peran sangat penting dalam menangkal terjadinya Konflik Horisontal, karena tugasnya langsung berada di tengah-tengah masyarakat, sehingga dapat memantau kegiatan yang dilakukan masyarakat sehari-hari. Melihat tantangan tugas yang cukup kompleks, maka diperlukan Danramil yang memiliki kemampuan handal. Tapi pada kenyataannya masih banyak Danramil yang memiliki pengetahuan tentang Binter masih sangat dangkal, kurangnya penguasaan Komunikasi sosial serta sikap dan perilaku yang tidak bisa dijadikan teladan. d. Melihat hal diatas, penulis memandang perlu untuk mengangkat masalah ini dan memberikan sumbangan pikiran guna peningkatan kemampuan Binter bagi Danramil dalam rangka menangkal bahaya Konflik Horisontal. 2. Maksud dan Tujuan. a. Maksud. Untuk memberikan gambaran tentang upaya peningkatan kemampuan Binter Danramil dalam menangkal Konflik Horisontal. b. Tujuan. Sebagai bahan masukan bagi Komando atas dalam menentukan kebijakan tentang pola pembinaan teritorial terutama bagi aparatnya. 3. Ruang Lingkup dan Tata Urut . Tulisan ini membahas tentang upaya peningkatan kemampuan Danramil yang meliputi landasan pemikiran kondisi serta upaya dengan tata urut sebagai berikut : a. Pendahuluan. b. Latar Belakang Pemikiran. c. Kondisi Danramil saat ini. d. Faktor yang berpengaruh. e. Kondisi Danramil yang diharapkan. f. Upaya Meningkatan Kemampuan Danramil Dalam Bidang Teritorial. g. Penutup. 4. Methode dan Pendekatan. Dalam pembuatan Karangan militer ini digunakan metode pendekatan empiris analitis atau Deskriptis Pragmatis. 5. Pengertian-pengertian. a. Konflik Horisontal. Adalah pertikaian atau perselisihan yang terjadi karena adanya perbedaan pandangan dari segi atau faktor SARA. b. SARA = suku, Agama, Ras, dan antar golongan. c. Binter Adalah merupakan kegiatan TNI-AD dalam membina hubungan dengan segenap lapisan masyarakat, sehingga tercipta Kemanggulan TNI dengan rakyat untuk didayagunakan bagi kepentingan pertahanan negara. BAB II LATAR BELAKANG PEMIKIRAN 6. Umum. Dalam setiap permasalahan yang timbul, tentu ada latar belakang yang menjadi sebab persoalan itu muncul. Demikian juga dalam pembahasan tulisan ini, ada beberapa hal yang kami gunakan sebagai landasan berpikir dalam rangka menyikapi kurangnya kemampuan Binter bagi Danramil dan dalam upaya peningkatannya. 7. Dasar Pemikiran. a. Pancasila. Sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila dijadikan rujukan dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara, demikian juga dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Indonesia. Dalam konteks pembahasan ini, sila ke–3 dari Pancasila yaitu : “Persatuan Indonesia” menjiwai semangat dalam menangkal bahaya konflik horisontal, dimana masyarakat Indonesia yang majemuk akan tetap bersatu dalam kebhinekaan yang ada. Semangat persatuan dan kesatuan akan meredam keinginan atau kepentingan setiap golongan yang berbeda untuk tetap mengedepankan kepentingan bangsa. b. UUD 1945. Sebagai sumber dari segala sumber hukum, UUD 1945 merupakan sumber hukum yang berlaku dan mempunyai legitimasi yang kuat dalam menyelesaikan segala bentuk pertikaian atau permasalahan yang timbul dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maupun bermasyarakat. Dalam pembahasan tulisan ini dijiwai oleh UUD 1945 pasal 30 ayat 1 : “Setiap warga negara berhakdan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara”. Berdasarkan pasal ini kita wajib menjaga agar jangan sampai terjadi konflik horisontal yang akan membahayakan keutuhan bangsa dan negara. c. Sapta Marga. Dalam sapta Marga yang ke – 2 yaitu : “Kami patriot Indonesia pendukung serta pembela ideologi negara yang bertanggungjawab dan tidak mengenal menyerah”. Hal ini mnejadi semangat untuk membela dan mempertahankan Indonesia dengan menjaga agar negara Indonesia terhindar dari konflik yang menimbulkan perpecahan dan kehancuran. d. Sumpah Prajurit. Dengan tetap menjaga keutuhan negara ini berarti kita telah setia kepada negara kita. Maka upaya untuk menangkal terjadinya konflik merupakan salah satu perwujudan kesetiaan prajurit yang pertama yaitu : “Setia kepada negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945”. e. Delapan Wajib TNI. Setiap permasalahan yang terjadi di masyarakat harus ditanggapi dan ditangani secara serius, karena kita selaku aparat harus selalu tanggap terhadap kesulitan atau permasalahan yang terjadi di tengah–tengah masyarakat, termasuk mengantisipasi jangan sampai terjadi konflik antar kelompok masyarakat. Hal ini sesuai dengan jiwa dari Delapan Wajib TNI yang ke – 8 yaitu : “Menjadi contoh dan memelopori usaha–usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat di sekelilingnya”. 8. Hal–hal Lain. Hal lain yang mendasari penuangan gagasan dalam tulisan ini adalah melihat permasalahan yang terjadi di masyarakat dewasa ini yang begitu kompleks. Hal ini memacu untuk meningkatkan kemampuan Danramil dalam menghadapi kondisi masyarakat di wilayah yang menjadi tanggungjawabnya. Yaitu masyarakat modern yang memiliki wawasan yang luas dan masyarakat yang kritis terhadap perubahan yang terjadi. Sehingga dituntut keberadaan aparat yang dapat mengimbangi kondisi tersebut. Sementara kemampuan yang dimiliki oleh aparat dalam hal ini Danramil dari segi pengetahuan dan keterampilan masih sangat jauh tertinggal di belakang, hal ini terlihat dari dangkalnya pengetahuan tentang Binter ; kurangnya penguasaan komunikasi sosial serta sikap dan perilaku yang belum mencerminkan ketauladanan seorangan pemimpin. Sehingga perlu adanya upaya peningkatan kemampuan bagi aparat yang mempunyai tugas dalam bidang teritorial. BAB III KONDISI DANRAMIL SAAT INI 9. Umum. Koramil merupakan satuan Komando Kewilayahan yang terkecil dijajaran TNI – AD yang menyelenggarakan fungsi administrasi bagi anggotanya dan melayani kepentingan masyarakat sesuai fungsinya sebagai satuan kewilayahan. Dalam melakukan tugasnya banyak berhubungan dengan masyarakat karena fungsi utamanya yaitu pembinaan geografi, demografi dan kondisi sosial. Hal ini menuntut kemampuan yang memadai dari aparat teritorial dalam mengimbangi perkembangan masyarakat di lingkungan tugasnya. 10. Pengetahuan Tentang Binter. Sebagai aparat teritorial, Danramil dituntut memiliki pengetahuan yang memadai tentang Binter, Pada kenyataannya kemampuan Danramil secara umum masih jauh dari yang diharapkan. Bagaimana seorang Danramil akan mengembangkan satuannya dalam rangka tugas pembinaan kedalam bagi anggota Koramil serta pembinaan terhadap masyarakat sebagai obyek pembinaan, teritorial apabila tidak mempunyai dasar ilmu atau pengetahuan tentang Binter yang akan dijadikan sebagai acuan atau pedoman dalam bertindak atau mengambil keputusan. Seorang pemimpin akan bisa mengambil keputusan dengan bijaksana apabila dia menguasai masalah, untuk itu harus memiliki modal pengetahuan sehingga akan percaya diri dan yakin dalam memecahkan suatu masalah. 11. Penguasaan Komunikasi Sosial. Kondisi umum yang terjadi saat ini juga bahwa para Danramil kurang mengetahui masalah komunikasi sosial, yaitu cara–cara untuk berkomunikasi atau berhubungan dengan masyarakat. Danramil kurang menguasai tentang taktik dan tehnik untuk mengambil hati rakyat baik secara lisan/ucapan maupun dengan perbuatan. Padahal komunikasi sosial ini merupakan cara yang paling efektif untuk mendapat simpati dan dukungan rakyat. Kurangnya penguasaan tentang komunikasi sosial akan menghambat proses kemanunggalan TNI dan rakyat. Karena Danramil kurang dekat dengan masyarakat, maka rakyat pun tidak akan terbuka terhadap aparat, akibatnya masyarakat enggan untuk memberikan informasi apabila terjadi sesuatu di lingkungannya. 12. Sikap dan Perilaku. Hal yang perlu mendapat perhatian juga masalah sikap dan perilaku seorang Danramil. Karena masih banyak Danramil yang mempunyai sikap dan perilaku yang tidak mencerminkan sebagai seorang pemimpin. Masih banyak Danramil yang arogan dan bertindak semena – mena, kadang – kadang menakut – nakuti masyarakat. Dalam lingkungan tugas/dinas, anggota akan menilai atasannya apakah berbuat sesuai aturan atau tidak. Anggota akan loyal kepada atasannya yang berkata sesuai dengan diperbuatnya. Apalagi dalam lingkungan masyarakat, dimana lingkungan tugas aparat teritorial adalah masyarakat yang harus dihormati dan diayomi atau dilindungi. Maka apabila sikap dan perilaku Danramil tidak sesuai dengan aturan bahkan cenderung banyak melanggar aturan, akan menimbulkan antipati terhadap aparat teritorial. Hal ini berpengaruh langsung terjadap pencapaian tujuan untuk merebut hati rakyat, yang terjadi malah sebaliknya yaitu rasa benci terhadap TNI. BAB IV FAKTOR YANG BERPENGARUH 13. Umum. Pada setiap kondisi yang terjadi serta pertimbangannya tentu akan mendapat pengaruh dari dalam kondisi itu sendiri maupun dari luar. Demikian juga dalam upaya peningkatan kemampuan Danramil dalam menangkal terjadinya konflik horisontal terdapat faktor–faktor yang mempengaruhi baik yang mendukung maupun faktor faktor yang menghambat terhadap pencapaian tujuan dari upaya yang dilakukan. 14. Faktor Internal. a. Kekuatan. 1) Pengalaman Pendidikan. Danramil yang telah lama bertugas mulai lulus dari pendidikan dasar hingga melaksanakan tugas jabatan Danramil tentunya telah banyak mengikuti tugas belajar atau mengikuti pendidikan, mulai dari pendidikan yang diselenggarakan di tingkat pusat yang bersifat pendidikan umum maupun pendidikan spesialisasi, seperti SUSARCAB, SUSDANRAMIL, SUSPATER, dll, sampai pendidikan yang diselenggarakan terutama berupa penataran, pembekalan, Apel Dansat, dll. Hal ini merupakan modal dasar pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki yang menjadi kekuatan untuk melaksanakan tugas. 2) Pengalaman Dinas/Tugas. Para Danramil pada umumnya telah lama melaksanakan tugas kemiliteran. Apalagi perwira yang berasal dari Tamtama atau Bintara mempunyai pengalaman tugas yang lebih lama, baik dinas di satuan selama di Home Base maupun tugas di daerah operasi. Pengalaman tugas bersama–sama anggota telah memberikan pengalaman yang berharga serta pelajaran dari wawasan yang luas dalam memahami suatu masalah dan mengambil keputusan. b. Kelemahan. 1) Pertambahan Usia. Apabila ada kemampuan, maka ada batas kemampuan yang dimiliki setiap orang. Batas kemampuan atau salah satu kelemahan yang dimiliki seorang Danramil yaiu bertambahnya usia atau semakin tua usia yang mengakibatkan semakin menurunnya kondisi fisik serta daya fikir walaupun semangat masih menggebu. Hal ini karena setiap manusia pasti akan mengalami penurunan daya tahan fisik, apalagi setelah sekian lama melaksanakan tugas. 2) Karakter Pribadi. Kondisi emosional seseorang sangat berpengaruh terhadap tindakan dan keputusan yang diambil. Bagi seorang Danramil yang mempunyai karakter teretntu, kadang–kadang mengambil keputusan atas dasar emosional dan tidak berdasarkan akal sehat atau pemikiran yang jernih. Misalnya seorang yang pemarah, mudah tersinggung, tidak sabar, tidak berani mengambil keputusan dan lain–lain, akan berpengaruh dalam menilai suatu masalah akibtanya menjadi tidak obyektif dan mengambil keputusan yang tidak tepat pada sasaran. 15. Faktor Eksternal. a. Peluang. 1) Dukungan Tokoh Masyarakat. Disamping faktor dari dalam rangka faktor dari luar yang mempengaruhi kondisi Danramil dalam melaksanakan tugas, diantaranya adalah adanya dukungan tokoh masyarakat disekitar tempat tugas. Karena hubungan yang dibina dengan baik terhadap tokoh masyarakat maka akan memberikan penghormatan serta memberi penghargaan dan dukungan baik moril maupun materiil dalam melaksanakan tugas satuan. 2) Dukungan Pemerintah Daerah. Koramil sebagai salah satu komando kewilayahan pasti akan berhubungan dengan pemerintah daerah dalam rangka koordinasi tentang pelaksanaan tugas yang berhubungan dengan masyarakat di daerah. Hal ini akan memberikan peluang dalam menyelesaikan tugas dengan kebijakan dari Pemda atau fasilitas yang dimiliki. b. Kendala. 1) Lingkungan Tempat Bertugas/Dinas Salah satu faktor penghambat dari lingkungan kerja yaitu adanya tempat–tempat yang terlarang di sekitar wilayah tugas, seperti tempat perjudian, tempat prostitusi dan lain–lain. Kondisi ini merupakan kendala untuk mengembangkan kondisi yang positif di sekitar Koramil. Upaya penegakan disiplin, hukum dan tata tertib akan berbenturan dengan kepentingan berbagai pihak yang terkait yang memerlukan koordinasi yang betul–betul baik. 2) Faktor Keluarga. Sebagai manusia biasa, diluar tugas sebagai anggota TNI, Danramil tentu mempunyai masalah keluarga, misalnya kebutuhan ekonomi keluarga. Dengan fasilitas dinas yang serba terbatas dihadapkan dengan kebutuhan keluarga yang cukup banyak tentu akan memerlukan perhatian untuk diselesaikan. Hal ini mempengaruhi pelaksanaan tugas pokok yang harus dilaksanakan. BAB V KONDISI DANRAMIL YANG DIHARAPKAN 16. Umum. Dari seluruh rangkaian kegiatan dalam rangka upaya peningkatan kemampuan Danramil di bidang pembinaan tertorial, tentunya ada suatu kondisi yang diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan atau tolak ukur dari kondisi yang ada saat ini agar mengalami perubahan menjadi kondisi yang diharapkan melalui proses upaya yang dilakukan. Dalam menentukan kondisi yang diharapkan akan berpedoman kepada tugas pokok yang harus dilaksanakan dikaitkan dengan kondisi sekarang serta tantangan tugas ke depan. Dalam konteks pembahasan tulisan ini, sosok Danramil yang bagaimana yang diharapkan dapat diandalkan untuk melaksanakan tugas pokok yang sehari dengan perkembangan situasi sekarang dan masa yang akan datang. 17. Pengetahuan Tentang Binter. Danramil yang diharapkan dapat menjawab tantangan tugas ke depan minimal harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang pembinaan teritorial mulai dari pengertian, penguasaan teori tentang Binter ini sangat penting sebagai modal dasar dalam melaksanakan tugas . Dalam menilai suatu masalah akan mempunyai dasar yang kuat dan yakin akan tindakan atau keputusan yang diambil serta mempunyai rasa percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki 18. Penguasaan Komunikasi Sosial. Komunikasi sosial yang efektif sangat diperlukan dalam pembinaan teritorial, karena rakyat sebagai obyek utama dalam pelaksanaan tugas Danramil, maka kita harus fokuskan seluruh kemampuan dalam memperlancar hubungan dengan masyarakat. Dalam berhubungan dengan masyarakat guna melaksanakan tugas Danramil harus menguasai komunikasi sosial, karena apabila komunikasi dengan masyarakat sudah terjalin dengan baik, maka tugas akan lebih mudah dilaksanakan karena rakyat mendukung setiap tugas yang dilaksanakan. Pribahasa “tak kenal maka tak sayang” dapat dijadikan pedoman, kalau kita baik-baik dengan rakyat, maka rakyat pasti akan baik dan mendukung kepada TNI. 19. Sikap dan Perilaku. Kehadiran seorang komandan akan menentukan keberhasilan dalam pertempuran. Ini berarti bahwa kehadiran dan ketauladanan dari seorang pimpinan di tengah-tengah anggota sangat berpengaruh dalam pelaksanaan tugas. Ketauladanan seorang komandan ynag diharapkan adalah yang mempunyai sikap dan perilaku yang baik, sabar disiplin, bijaksana dan taat menjalankan ibadah. Tapi dalam soal kedinasan tetap tugas dan tidak ragu-ragu. Daalam pelaksanaan tugas pokok satuan, seorang Danramil yang memiliki sikap dan perilaku seperti tersebut diatas sangat diperlukan dalam mengendalikan anggota sehingga tidak ada alasan bagi anggota untuk melanggar. Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari diluardinas, akan dihormati dan disegani oleh masyarakat serta akan mudah memberikan pengaruh kepada masyarakat tersebut. BAB VI UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN DANRAMIL DALAM PEMBINAAN TERITORIAL 20. Umum. Dalam rangka menciptakan suatu kondisi yng sesuai dengan keinginan atau yang diharapkan tentunya memerlukan adanya upaya-upaya guna tercapainya tujuan tersebut. Guna menuju ke arah pencapaian tujuan dalam satu bidang akan berkaitan dengan bidng lain, demikian juga dengan pembahasan Binter akan berkaitan dengan bidang lain baik internal di lingkungan instansi militer maupun kemampuan Dan Ramil dalam rangka mencegah bahaya konflik horisontal yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan pemerintah. 21. Tujuan. Tujuan dari upaya peningkatan kemampuan Danramil dalam pembinaan teritorial, yaitu : a. Agar Danramil handal dalam melaksanakan Binter b. Agar Danramil mampu menghadapi era globalisasi c. Agar Danramil dapat eksis pembinaan teritorial. d. Agar Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap utuh dan kedaulatannya terjaga. 22. Sasaran. Adapun sasaran yang ingin dicapai pada upaya ini adalah sebagai berikut : a. Danramil yang menguasai masalah Binter. b. Danramil yang menguasai tehnik komunikasi sosial. c. Seorang Danramil yang mempunyai sikap dan perilaku yang dapat dijadikan suri tauladan. d. Danramil yang dapat menjembatani kepentingan satuan dengan pemda dan tokoh masyarakat. 23. Subyek. Yang menjadi subyek dari upaya peningkatan kemampuan Dan Ramil ini adalah komandan atasan yang berwenang memberikan kebijakan sebagai atasan langsung yaitu, Dandim, Danrem dan Pangdam. 24. Obyek. Yang menjadi obyek yang akan ditingkatkan dalam upaya peningkatan kemampuan ini adalah Danramil. 25. Methode. Dalam melakukan upaya guna meningkatkan kemampuan Danramil dengan mengoptimalkan segala sarana dan prasarana yang tersedia dengan menggunakan methode sebagai berikut : a. Ceramah Methoda ini bisa dilakukan dengan cara memberikan arahan pada saat jam komandan, penataran, apel Dansat, atau kegiatan khusus pembekalan kepada para Danramil melalui rapat koordinasi teknis atau pembekalan khusus apabila akan menghadapi kegiatan-kegiatan tertentu misalnya : menghadapi pemilu, kegiatan Bhakti TNI, dll. b. Tanya Jawab Methode ini dilakukan dengan cara menyampaikan atau menanyakan jawaban dari persoalan atau permasalahan yang ada kepada orang yang lebih mengerti, memahami dan menguasai masalah yang akan kita sampaikan dan bertindak sebagai nara sumber, dalam suatu forum tertentu. c. Diskusi Suatu masalah dapat dipecahkan dengan cara didiskusikan, sehingga Danramil dapat mengerti sejauh mana pengetahuannya terhadap suatu masalah. Dalam methode diskusi para Danramil dapat mengungkapkan tanggapan, pendapat, gagasan atau pengalaman pribadi dan ide-ide yang digunakan dalam menyelesaikan suatu permasalahan. d. Study Kasus Yaitu dengan cara melemparkan contoh kasus yang harus dibahas oleh para Danramil atau dengan persone lain. Dengan mempelajari contoh-contoh kasus yang ada maka para Danramil akan bertambah wawasannya dalam mengantisipasi jangan sampai permasalahan yang sama terulang kembali, serta bagaimana cara menyelesaikan persoalan yang dihadapi, sehingga akan semakin banyak pengetahuan atau pengalaman dengan mempelajari contoh-contoh kasus yang terjadi. e. Aplikasi Methode aplikasi merupakan penerapan dari semua teori yang dimiliki oleh para Danramil dengan dihadapkan kepada kondisi nyata dilapangan mengenai suatu permasalahan. Pnguatan teori yang dimiliki dalam melakukan tindakan atau mengambil keputusan. Menilai dan mengamati suatu masalah dihadapkan pada situasi yang kurang menguntungkan. Para Danramil dapat membandingkan suatu permasalahan dengan membandingkan dengan pengalaman yang telah dialami sebelumnya. 26. Sarana dan Prasarana. Dalam upaya meningkatkan kemampuan Danramil agar memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai guna melaksanakan tugasnya secara maksimal dengan menggunakan piranti lunak dan piranti keras. a. Kriteria Seorang Danramil. Untuk mencapai tingkat sumber daya manusia yang sesuai dengan harapan, maka perlu dibuat suatu standar baku sebagai kriteria bagi jabatan Dan Ramil sehingga kemampuan awal sebelum menjadi Danramil harus dipenuhi oleh seorang perwira yang akan menduduki jabatan Danrmil. b. Buku Petunjuk. Perlu disiapkan sarana tanpa buku petunjuk administrasi dan buku petunjuk pelaksanaan tentang pembinaan teritorial yang akan digunakan oleh Danramil sebagai pegangan dan dasar pengetahuan tentang prosedur secara administrasi dalam melaksanakan tugas serta bagaimana tugas dilapangan secara teknis maupun taktis. c. Kurikulum. Agar proses pembelajaran guna peningkatan kemampuan materi Binter dapat maksimal, maka diperlukan program pendidikan yang khusus tentang Binter yang dituangkan dalam kurikulum, sehingga materi ini dapat dilaksanakan secara terprogram daam pelaksanaan beberapa jenis pendidikan/sus dilingkungan TNI-AD. d. Lembaga Pendidikan. Salah satu sarana penunjang untuk meningkatkan kemampuan adlaah lembaga pendidikan. Ini merupakan media atau sarana yang efektif untuk belajar, karena dalam lembaga pendidikan bertemu secara langsung antara peserta didik dengan pendidik atau pengajar yang mempunyai kemampuan di bidangnya. Semua methode dapat dilakukan disini dengan menggunakan sarana yang tersedia. 27. Upaya. Berbagai usaha dilakukan untuk meningkatkan kemampuan, dalam rangka peningkatan kemampuan Danramil dalam bidang pembinaan teritorial dilakukan dengan upaya sebagai berikut : a. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Berbicara mengenai sumber Daya Manusia (SDM) tidak akan lepas dari ilmu manajemen, karena pada dasarnya manajemen adalah keterampilan mendayagunakan seluruh sumber daya yang tersedia dan mendapatkan posisi dan kondisi yang kondusif bila dihadapkan dengan perubahan dan permasalahan. Untuk mewujudkan kemampuan Danramil yang mampu menghadapi perkembangan situasi dan kondisi yang terjadi saat ini dari ke depan khususnya ancaman diintegrasi bangsa yang ditiik beratkan pada peningkatan sumber daya manusia yaitu melalui beberapa cara, antara lain : 1). Melalui Sistim Formal. Yaitu untuk meningkatkan kemampuan Danramil sebagai prajurit teritorial serta implementasi lima kemampuan teritorial dalam melaksanakan tugas melalui kursus-kursus dan penataran yang dilaksanakan oleh masing-masing Rindam yang diikuti oleh pejabat Dan Ramil atau yang akan diarahkan untuk jabatan Danramil, namun kurikulum dan materi ditentukan oleh pusat teritorial TNI-AD guna mendapat keseragaman kemampuan. Akan tetapi daerah dapat memberikan muatan sesuai ciri dan kebiasaan daerah maisng-masing. Dan yang kedua dengan mengikuti pendidikan secara terpusat yang dilaksanakan di tingkat pust, dalam hal ini oleh Pusik Teritorial bagi para Dan Ramil atau Pejabat yang akan diarahkan menjadi Danramil. Dengan pendidikan langsung dibawah pembinaan pusat teritorial TNI-AD diharapkan akan lebih meningkatkan wawasan yang lebih jauh ke atas dalam menilai permasalahan yang terjadi dan diberikan pandangan-pandangan mengenai penyelesaian masalah dengan dikaitkan pada kepentingan yang bersifat atau lingkup nasional serta kepentingan yang bersifat strategis. 2). Peningkatan kualitas dalam bidang pengetahuan dan keterampilan. Hal ini dimaksudkan agar para Danramil memiliki wawasan yang luas, menguasai sejumlah ilmu pengetahuan, memiliki daya nalar dan analisa yang baik, mampu mengkoordinir pendapat dan aspirasi masyarakat serta mampu menarik kesimpulan dan menemukan solusi yang baik secara cepat dan tepat, maka perlu diadakan pembekalan, pernyataan dan aplikasi pengetahuan sert keterampilan yang meliputi pengetahuan dasar dan pengetahuan pendukung dan memanfaatkan peluang yang ada sehingga akan terbina dan tercipta suatu sosok yang ideal sebagai aparat teritorial dari segi pengetahuan dan keterampilan bidang pembinaan teritorial. 3). Peningkatan kualitas dalam bidang fisik atau keterampilan. Tampilan fisik yang prima, berwibawa, dinamis dan diterima dilingkungannya sebagai seorang Prajurit teritorial yang profesional sangat mendukung pelaksanaan tugasnya di lapangan. Untuk dapat mewujudkan kondisi tersebut dapat ditempuh melalui pendidikan dan latihan baik secara terprogram maupun non program yang diatur suaru sistematis oleh komandan satuan teritorial masing-masing. Guna mengoptimalkan upaya diatas, maka dilaksanakan kegiatan sebagai berikut : 1) Dandim memberikan arahan padasaatBriefing kepada para Danramil tentan peningkatan kinerja di lapangan sekaigus tanya jawab mengenai masalah yang dihadapi para Danramil dalam melaksanakan tugasnya di lapangan. 2) Setiap satu bulan sekali paraDanramil diberikan contoh study kasus untuk dibahas dan didskusikan bersama-sama untuk mencari pemecahannya yang dapat digunakan sebagai tolok ukur dalam pelaksanaan tugas sehari-hari dalam meningkatkan kemampuan Danramil dalam mengatur kegiatan di Koramilmasing-masing. 3) Sewaktu-waktu Dandim atau Kasdim megecek kemampuan Danramil dalam membuat produk-produk yag berkaitan dengan tugas-tugas sebagai Danramil seperti ST, laporan-laporan atau rencan-rencana dalam bentuk tertulis. Degan maksud agarDanramil mampu membuat tersebut bukan hanya bisa memrintahkan pembuatannya kepada Ba TUUD saja. b. Peningkatan Komunikasi Sosial. Upaya ini dititik beratkan kepada hubungan dengan masyarakat melalui pembinaan kedalam guna mewujudkan Danramil yang profesional dalam bidangnya dengan pembekalan, sosialisasi dan pengarahan komandan atasan. Dan untuk sasaran kekar dalam rangka mendekatkan diri kepada rakyat maka dilaksanakan dengan meningkatkan hubungan baik dengan rakyat melalui kegiatan 1). Tetap muka untuk menumbuhkan hubungan diologis dan komunikasi dari arah antara masyarakat dan Danramil. 2). Pembentukan Forum Komunikasi untuk mewadahi aspirasi masyarakat sehingga terjalin hubungan yang harmonis dan kondusif antara masyarakat dan Danramil. 3). Mengikut sertakan masyarakat dalam setiap kegiatan atau program yang dilaksanakan oleh satuan kewilayahan dan sebaliknya selalu berperan serta secara aktif dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat sekitarnya. Upaya yang dilakukan antara lain : 1) Dalam setiap apel radio Dandim atau Kasdim memberikan arahan dan penekanana tentang pentingnya menjaga hubungan baik dengan masyarakat serta bersikap baik-baik dengan rakyat. 2) Pada saat Briefing perwira Dandim mengemukakan masalah yang dihadapi oleh salah satu Koramil khusunya mengenai hubungan dengan masyarakat dan memrintahkan untuk dibahas atau mendiskusikannya agardicari pemecahannya secara bersama-sama sehingga Koramil atau perwira lain mengetahui perkembnangan situasi yang terjadi saat itu. 3) Dandim memberikan tugas kepada salah seorang Danramil untuk mewakilinya dalam salah satu undangan pertemuan dengan tokoh masyarakat, dengan maksud memberikan pengalaman kepada para Danramil dalam berkomunikasi dengan tokoh masyarakat. c. Kemampuan Aplikasi di Lapangan. Dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan untuk menerapkan semua teori yang dimiliki dan menganalisa masalah untuk ditiapkan secara serasi terhadap persoalah yang dihadapi dengan menyesuaikan terhadap lingkungan atau perkembangan situasi upaya yang dilakukan berupa petunjuk, pedoman dan langkah-langkahpralitis dalam menyelesaikan masalah atau kasus yang ada adalah pengalaman dan antisipasi yang dituangkan dalam bentuk protap-protap, buku saku atau bentuk-bentuk lain. Adapun isi dan sifatnya terbagi dalam kasus perkasus sehingga lebih praktis. Bentuk lain dari upaya aplikasi ini adalah berupa buku pedoman praktis yang mengandung ilmu-ilmu terapan tentang bagaimana pola sikap dan pola tindak sebagai aparat teritorial yang profesional dalam menyelesaikan masalah di lapangan. upaya aplikasi ini dipandang sangat bermanfaat dibandingkan dengan buku buku petunjuk teknis atau petunjuk lapangan yang bersifat lebih umum dan menumbuhkan lebih banyak penjabaran, upaya ini dapat ditindak lanjuti dengan menggunakan methode latihan dan aplikasi melalui : 1). Latihan yang intensif sesuai program maupun non program dengan methode diskusi, study kasus dann praktek atau aplikasi di lapangan dihadapkan dengan kondisi ancaman aktual yang mungki dihadapi . 2). Penegasan dan konsisten dan konselamn sebagai Danramil yang profesionalisme dan memegang teguh jati diri TNI sebagai tentara nasional. 3). Sosialisasi profesionalisme prajurit teritorial yang bersumber dari jati diri TNI dan reformasi internal TNI kepada seluruh lapisan masyarakat instansi pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat di daerah masing-masing. 4). Aplikasi penegasan di lapangan dengan memberikan porsi yang lebih besar kepada instansi daerah yang memiliki sektor pembinaan langsung terhdap unsur geografi, demografi dan kondisi sosial yang ada. Upaya yang dapat dilakukan yaitu : 1) Dandim atau perwira Staf selalu menberikan arahan tentan bagaimana mengaplikasikan semua kemampuan para Danramil dalam setiap kegiatan di lapangan yag berhubungan dengan masyarakat. 2) Dandim memberikan tugas kepada para Danramil untuk menyelenggarakan suatu kegiatan lomba misalnya Turnamen Bulu Tangkis tingkat Kecamatan. Yang melibatkan seluruh anggota dan masyarakat sekitarnya. Dengan maksud untuk melihat atau mengukur sampai sejauh mana kemampuan Danamil dalam mengatur anggota dan mengerahkan masyarakatnya dalam melaksanakan suatau kegiatan dengan segala kendala dan rintangan yang akan ditemui dalam pelaksanaannya. Peningkatan Ketahanan Mental. Ketahanan pribadi yang tergambar dalam mental pribadi yang identik dengan kerja keras atau atas kerja Dan Ramil yang tergambar dalam disiplin, inovatif dan kreatif, oleh kasus kerja secara aktual di lapangan akan menghasilkan Dan Ramil yang profesional memegang teguh jati diri TNI dan diketahui oleh rakyatnya dalam rangka ikut serta berperan aktif mengembalikan citra positif TNI yang terpurak akibat kesalahan masa lalu. Selanjutnya untuk mewujudkan peningkatan kualitas mental prajurit dalam hal ini Danramil yang profesional diarahkan kepada pembentukan kepribadian yang meliputi : 1). Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2). Sopan Santun 3). Tata Krama 4). Ketauladanan 5). Tahan Uji 6). Ulet 7). Berkeyakinan atas kebenaran idiologi Pancasila 8). Berkeyakinan atas agama yang dianut 9). Menjunjung tinggi norma hukum 10). Memegang teguh prinsip kebenaran 11). Menghormati pendapat orang lain 12). Konsisten terhadap tugas dan pengabdiannya kepada Bangsa dan Negara. Guna meningkatkan ketahanan mental ini, Danrdim memerintahkan kepada seluruh anggota termasuk Danramil setiap Malam Jumat untuk mellaksanakan apengajian bagi anggota yang beragana Islam atau kebaktian bagi anggota yang beragama Non Islam.Dengan kegiatan ini dapat diiukuti beberapa kegiatan oleh anggota : 1) Mendengarkan ceramah agama dalam rangka meningkatkan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 2) Tanya jawab dan diskusi seputar kehidupan beragama. 3) Melaksanakan ibadah secara bersama sebagai perwujudan secara nyata sebagai manusia yang bertakwa/berakhlak mulia. BAB VII P E N U T U P 28. Kesimpulan. Kondisi nyata saat ini, dimana masih dangkalnya pengetahuan Danramil tentang Binter, kurangnya pengusaan tentang komukasi sosial serta sikap dan perilaku yang belum mencerminkan ketauladanan, dapat dinetralisir dengan melakukan upaya peningkatan kemampuan dengan metode ceramah, penataran, pelatihan serta pendidikan, sehingga diharapkan Dramil yang memeiliki kemampuan dalam rangka menangkal. 29. Saran. Agar Danramil memiliki kemampuan sesuai yang diharapkan, mohon ada kebijakan dari Komando atas bagi personel yang akan menjabat sebagai Danramil. Danramil harus mempunyai kemampuan atau kualifikasi tentang Binter, sehingga akan mampu mengemban tugas dan tanggung jawab ke depan. Demikian karangan militer ini, kami buat sebagai bahan masukkan bagi komando atas, kami harapkan saran dan kritik guna perbaikan dimasa yang akan datang. copas : http://towarani1407.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar